Tuesday, February 19, 2013

Ayah : Murid tertua


Saat kuliah di hari pertama, teman sekelas Ayah di akademi PTT yang menggunakan model semi militer sempat mengira Ayah yang datang terlambat dan muncul mendadak dengan kumis tebal sebagai salah satu pengajar. Maka mereka semua langsung berdiri dan mengucapkan “Siappppp… grakkk !” demi menyambut kemunculan Ayah. Namun Ayah dengan mantap-nya langsung ke kursi bagian belakang dan duduk sebagai salah satu mahasiswa, dan langsung disambu gerrr tdari seluruh kelas. Maklum Ayah kembali kuliah di usia yang cukup tua, dan bersanding dengan teman2nya yang masih baru lulus SMA. Ayah bekerja di Pos dan Giro sejak 1955 dan pensiun 31 Juli 1990, saat pensiun Ayah bercanda bahwa kantor-nya melakukan salah satu kesalahan yang sangat besar dengan memensiunkan beliau.

Belakangan Ayah yang lebih tua menjadi tempat teman2nya curhat, dan karena ini juga Ayah pensiun lebih dahulu dibanding teman2 seangkatan-nya. Setelah sempat di Bandung, dan kakak perempuan-ku lahir 1962,  Ayah sempat hampir ditugaskan ke Kalimantan, namun topan badai menghambat perjalanan laut ke Kalimantan, menunggu badai yang tak pasti kapan berakhir-nya, kantor Pos Surabaya menawarkan Ayah untuk dinas di Surabaya, itu sebab-nya abang-ku dilahirkan di Surabaya 1964, tepatnya di RS Mardi Sentosa. Ayah sempat ditugaskan kembali ke Bandung dimana aku lahir 1968, dan lalu 1971 ditugaskan di Sibolga, lalu adik-ku lahir 1974 di Medan, dan lalu 1976 kami ke Denpasar, sampai dengan 1980, dan terakhir  kami ke Bandung, sampai dengan Ayah pensiun.

No comments: